Covid-19 dan Nurani Kita

Baca Juga

Yandi Noviahttps://www.bloggerkalteng.id
Wakil Ketua Bidang Komunikasi, Informasi dan Telekomunikasi Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Kalimantan Tengah | Blogger Kalteng | Pimred betangvoice.id (Literasi Millenial).

Oleh: Ihsan Mz, M.Psi*

PEMUDAMUH.ID – Pasca diumumkannya Walikota Palangka Raya, Fairid Naparin positif mengidap Covid-19 pada Senin malam (27/4), beragam reaksi muncul. Pesan berantai tersebar di berbagai WhatsApp Group (WAG). Setidaknya ada 2 kanal berita online yang menginformasikan hal tersebut, https://kaltengpos.co dan https://www.borneonews.co.id

Beragam simpati muncul dari berbagai kalangan. Misalnya dalam WAG pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palangka Raya, dimana Walikota sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI, terkirim banyak ucapan doa dan harapan agar Walikota bisa segera pulih dan beraktifitas seperti sedia kala.

H. Sugianto Sabran, Gubernur Kalimantan Tengah bahkan meneteskan air mata sembari meneguhkan Fairid agar tabah dan kuat dalam menerima cobaan ini. Sebagai orang nomor satu di Palangka Raya, beredarnya berita ini akan berdampak pada jalannya roda pemerintahan. Namun Fairid menyampaikan kepada Gubernur bahwa tugasnya akan terus dilaksanakan melalui pejabat yang ditunjuk.

Fakta ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi kita bahwa pandemi Covid-19 bukan isapan jempol. Telah banyak korban yang berjatuhan sementara di tengah-tengah kita masih ada yang acuh tak acuh terhadap himbauan pemerintah dan pemuka agama. Pemerintah pusat hingga unit terkecil telah masif memberikan pemahaman untuk tidak berkerumun, phyisical distancing, mengenakan masker jika terpaksa keluar rumah dan cuci tangan. Para pemuka agama juga telah mensosialisasikan kepada jamaahnya untuk beribadah dari rumah masing-masing. Namun pesan tersebut bak angin lalu bagi mereka yang masih bebal dan keras kepala.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti bebal adalah sukar mengerti atau tidak cepat menanggapi sesuatu. Istilah lainnya tidak tajam pikiran. Ada yang menyebutkan bahwa sinonim bebal adalah bodoh. Benarkah demikian?

Rachmi Ramdhini, dalam tulisannya yang bertajuk “Jangan Jadi Orang Bebal, Jadilah Orang Bijak” menegaskan, “Orang bebal itu sudah pasti bodoh. Tapi orang bodoh itu belum tentu bebal.” Masih mengutip Rachmi Ramdhini, orang bebal pada dasarnya tak punya hati yang utuh, karena sebagian besar hatinya hancur. Berkeping-kepingnya hati orang bebal itu bukan dihancurkan orang lain, melainkan dihancurkan oleh sikapnya sendiri yang tak legowo, yakni tidak dapat menerima keadaan—atau sesuatu yang menimpanya—dengan tulus hati.

Memang ada yang menyebutkan bahwa “bodoh” sama dengan “bebal”. Namun sebetulnya antara orang bebal dengan orang bodoh tidaklah sama. Orang dikatakan bodoh karena belum tahu. Sedangkan orang bebal tak mau diberi tahu. Dengan kata lain, orang bodoh bisa diajak jadi pintar, tetapi orang bebal tidak mau pintar. Mengapa? Karena orang bebal merasa dirinya lebih pintar.

Mengapa orang bebal tak dapat jadi pandai? Mungkin apa yang dikatakan Imam Asy Syafi’i menjadi jawabannya. Kata Imam Asy Syafi’i, “Setiap penyakit pasti ada obat yang akan menyembuhkannya, kecuali sifat bebal dan keras kepala. Ia hanya akan membuat orang yang ingin menyembuhkannya putus asa dan kelelahan.”

Saking berbahayanya sifat bebal dan keras kepala ini, Ibnu Abi Ziyad pernah mengutip nasihat Ayahnya yang berbunyi, “Ayahku menasehati aku”, kata Ibnu Abi Ziyad, “Wahai anakku beriltizamlah (komitmen) engkau kepada para Ahlul Ilmi. Duduklah bersama-sama dengan mereka dan jauhilah orang-orang bebal dan keras kepala. Karena sesungguhnya tidaklah aku duduk-duduk bersama mereka lalu aku bangun meninggalkan mereka, kecuali setiap kali itu pula berkurang akalku.”

Pandemi ini telah mengajarkan kita banyak hal. Peka terhadap nasihat dan himbauan salah satunya. Barangkali di antara kita ada yang memiliki berderet-deret gelar akademik. Namun jika tidak termanifestasi dalam kenyataan, maka gelar tersebut tidak berarti apa-apa. Peka terhadap saudara yang kurang mampu juga demikian. Diantara kita mungkin ada yang menumpuk harta bergunung-gunung, namun jika tidak melibatkan diri dalam pengentasan kemiskinan dan meringankan beban orang-orang yang kurang mampu, maka harta yang bertumpuk-tumpuk itu justru akan menjadi beban di akhirat kelak.

Mari sudahi tingkah-tingkah sok pintar dan sok hebat. Momentum bulan Ramadhan 1441 H ini menjadi kesempatan bagi kita untuk memupuk ketajaman nurani dan kepekaan rasa. Allah Swt. pasti punya maksud dari pandemi yang mengepung ini. Masih dalam nuansa Ramadhan—saat doa dan munajat kita diijabah oleh-Nya—kita mohon kepada Allah Swt. agar Walikota dan seluruh masyarakat yang mengidap Covid-19 bisa segera pulih dan beraktifitas normal kembali. Amin.

*Penulis adalah Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi PWPM Kalteng, Dosen Prodi BKI IAIN Palangka Raya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest News

Nilai Dasar Puasa – Ustadz Aris Pratama Gunawan, SH

Alhamdulillah telah tunai puasa kita di hari kedua Ramadhan 1442 H. Mari kita simak Kajian Ramadhan Pemuda Muhammadiyah Kalimantan Tengah oleh Aris Pratama Gunawan, SH dengan tema “Nilai Dasar Puasa”.

More Articles Like This